Suryalaya Search

Sunday, April 12, 2009

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya

Untuk melihat artikel-artikel tentang dzikir TQN Pondok
Pesantren Suryalaya
bisa dilihat pada link di bawah ini :

http://hudaya-organization.blogspot.com/2009/05/
index-artikel-artikel-tentang-dzikir.html

--------------------------------------------------------------

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya



Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur
Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada
masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan,
baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat
sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.

Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu
dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon
semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab
1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur
Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan
modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag,
desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil
dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit,
jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.


Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang,
akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan
motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan
beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan
dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya
Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh
(legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah
bin Talabudin

Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin
berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat,
sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah
pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.


Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan
daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren
Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui
dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam
penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh
sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk
dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid
atau ikhwan, yaitu TANBIH.

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah
pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan
kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu
KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil
dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom
juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu,
di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok
Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan,
terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII.
Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak
membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI,
untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam
dan Negara.

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju,
membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat
masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah
semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para
mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang
tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan
Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin
berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret
1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat
(1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri
(Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren
Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas
Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan
dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.


Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.
Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

Sumber = www.suryalaya.org

----------------------------------------------------------------

1 comment:

  1. salam. makash dah berkunjung. Blog yang bagus dan informatif.

    ReplyDelete