Suryalaya Search

Monday, July 7, 2008

Santun dalam berdakwah

(Senin, 07 juli 2008)

Da'wah usually denotes proselytizing of Islam. The Arabic daˤwah means literally "issuing a summons" or "making an invitation", being the active participle of a verb meaning variously "to summon, to invite".

"Inviting others to Islam" is considered to be an obligation for Muslims. Daˤwah is sometimes referred to as the act of "preaching Islam". A Muslim who practices daˤwah, either as a religious worker or in a volunteer community effort, is called a dai.

A dāˤī is thus a person who invites people to understand Islam through a dialogical process, and may be categorized in some cases as the Islamic equivalent of a missionary.




Santun dalam Berdakwah
Oleh : Aang Saeful Millah

Allah berfirman, ''Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.'' (QS Al An'am [6]: 108)
Diriwayatkan ketika Nabi SAW dan para sahabat tinggal di Makkah, orang-orang Mukmin pada saat itu sering mencerca berhala sesembahan kaum musyrik. Untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka sembah, hanyalah benda yang tidak mampu berbuat apa-apa. Itu sebabnya kaum musyrik dengan penuh emosional berbalik mencerca Allah SWT yang juga sesembahan kaum Mukmin. Kemudian, turunlah ayat di atas sebagai teguran bagi Nabi Muhammad SAW dan kaum Mukmin untuk tidak mencerca sesembahan musyrikin.
Firman Allah SWT di atas, sesungguhnya hendak menunjukkan kepada kaum Mukmin bagaimana etika berdakwah yang baik, yaitu bersikap santun dan tidak arogan dalam berucap. Karena dengan bersikap kasar, kaum kafir bukan hanya tidak tertarik pada Islam, namun justru akan membenci dan mencerca Islam bahkan menghina Allah SWT.
Jika mencerca sesembahan kaum kafir saja tidak diperkenankan, apalagi mencerca sesama Muslim yang hanya berlainan madzhab atau pemahaman. Itu sebabnya, mengajak kepada kebaikan dengan sikap tidak santun hanya akan menyebabkan perpecahan dan pertikaian. Dalam setiap kesempatan memimpin peperangan, Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingatkan prajuritnya, yaitu kaum MuslimS untuk tidak merusak rumah, pepohonan, dan alam sekitar. Tidak heran jika kemudian Nabi Muhammad SAW dihormati dan disegani di kalangan non-Muslim, karena sikap santunnya yang luhur, meski itu di medan laga.
Bersikap santun bukan berarti tidak tegas. Di Makkah, Nabi Muhammad SAW pernah ditawari harta, tahta, bahkan wanita oleh kaum musyrik, agar meninggalkan dakwahnya. Namun, dengan tegas Nabi SAW menolaknya dan tetap menjalankan aktivitas dakwah.
Berdakwah adalah usaha mulia untuk mengajak orang kepada kebaikan dan kebenaran. Kalaupun yang diajak tidak tertarik, itu semata-mata kehendak Allah SWT. ''Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.'' (QS Al Qasas [28]: 56). Wallahu a'lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment