Suryalaya Search

Friday, November 14, 2008

Guru Mursyid Silsilah TQN Suryalaya ke 10

SYEKH ABDUL HASAN ALI BIN MUSA RA

MENJAGA KEHORMATAN PARA GURU

Menelusuri kiprah ulama arif billah tidak akan merasa bosan, bahkan sikapnya yang bijak dan kemurnian hati menjaga kehormatan guru patut ditiru bagi kita yang sedang menelusuri perjalanan agar dapat mencapai tujuan akhir, dapat memasuki pintu-pintu surga Allah swt dan bertemu dengan pemiliknya.

Salah satu alim yang arif billah adalah Abdul Hasan bin Musa ra, beliau silsilah ke sepuluh TQN pondok pesantren Suryalaya, sosok yang sangat rajin dalam beribadah, sangat terkenal kejujuran dan ketegasannya dalam menegakan syariat agama, beliau juga senantiasa mengingat Allah swt dalam segala keadaan dan suasana.

Beliau juga sangat memuliakan setiap orang yang memberi pengetahuan terhadapnya, dan beliau sangat menjaga perasaan gurunya. Bijak dalam memberikan pengetahuan terhadap sesama, mudah dipahami, dan tidak pernah menceritakan kelemahan murid-muridnya. Perasaannya sangat peka terhadap segala urusan kemasyarakatan, terhadap segala persoalan yang ada, senantiasa memberikan solusi yang mudah untuk di kerjakan sekalipun oleh orang dengan tingkat pengetahuan yang standar.

Tidak ada penjelasan yang pasti dalam literatur yang dimiliki penulis tentang tempat kelahiran dan tahun lahirnya, tentang kapan wafat dan di mana beliau di makamkan. Jika ada di antara pembaca yang mengetahuinya sangat bijak jika dikomparasikan untuk penulisan sejarah yang lebih maksimal.

Menjaga hati para guru adalah suatu kemestian yang harus di laksanakan setiap pencari ilmu.

Ingatlah salah satu pesan dari Sulthon Aulia Syekh Abdul Qodir Zaelani qs kepada putranya Syekh Abdul Rozak ra.

“Wahai anakku, semoga Allah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepadamu dan segenap kaum muslimin.

Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, pegang sara, laksanakan, dan pelihara batas-batasnya.

Ketahuilah bahwa thoriqotku dibangun berdasarkan al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw.

Hendaklah kamu berjiwa bersih, dermawan, murah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain dengan jalan kebaikan.

Jangan keras hati atau berlaku tidak sopan.

Sebaiknya kamu bersikap sabar dan tabah menghadapi segala ujian dan cobaan.

Hendaklah kamu mengampuni kesalahan orang lain dan bersikap hormat pada sesama ikhwan dan semua fakir miskin.

Pelihara olehmu kehormatan para guru, dan berbuat baiklah kepada orang lain, berilah nasihat yang baik kepada orang-orang besar tingkat kedudukannya, demikian juga bagi masyarakat kecil.

Jangan suka berbantah-bantahan dengan orang lain kecuali dalam masalah agama”.

Syekh Abdul Hasan bin Musa ra adalah sosok hamba Allah swt yang patuh terhadap segala titah gurunya. Kepatuhan adalah merupakan salah satu indikasi dari menjaga kehormatan guru. Di dalam al-Qur’an dikisahkan bagaimana perjalanan Nabi Musa as yang hampir gagal mengikuti Nabi Khidir as karena hal kecil yang menjadi ganjalan.

Dapat di baca dalam surat al-kahfi ayat 66 sampai 82. Ketika Nabi Musa as, memohon kepada Nabi khidir as untuk memberikan ilmu dan memberi izin mengikuti perjalanannya. Nabi khidir berujar. “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Jika kamu mengikutiku. Maka janganlah kamu menanyakan tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

Nabi Musa as menyanggupi persyaratan yang diajukan kepadanya. Di perjalanan keduanya menemukan perahu, Nabi khidir as melubanginya, Nabi Musa as angkat bicara, kenapa kamu melubangi perahu-perahu itu nanti penumpangnya bisa tenggelam karena ulah kamu. Nabi Khidir berkata, Bukankah aku sudah bilang kamu tidak akan bisa bersabar mengikutiku. Nabi Mus as pun memohon maaf atas kekhilapannya, perjalanan pun dilanjutkan.

Di perjalanan berikutnya keduanya bertemu seorang anak kecil, maka Nabi Khidir as membunuhnya. Melihat kejadian itu Nabi Musa as langsung berkata, kenapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukankah itu perbuatan dosa besar. Bukankah sudah kukatakan kamu takkan bisa sabar mengikutiku, Nabi khidir as mengulangi peringatannya terdahulu. Nabi Musa as berjanji jika setelah kali kedua bertanya lagi siap untuk tidak di izinkan untuk mengikuti perjalanan berikutnya.

Keduanya melihat bangunan yang porak-poranda, kemudian Nabi khidir as memperbaikinya sampai selesai. Setelah selesai, Nabi Khidir as menjelaskan sikapnya di perjalanan tadi yang membuat Nabi Musa as tidak mematuhinya. Aku merusak perahu-perahu itu karena di kejauhan ada perompak, mereka tidak pernah merompak perahu yang jelek, perbuatan aku tadi sebenarnya untuk menyelamatkan orang miskin dengan perahunya itu.

Kenapa aku membunuh anak kecil itu, karena kedua orang tuanya mukmin yang patuh, sementara anak ini dapat menjadikan keduanya sesat dan kafir, aku mengharapkan dikemudikan hari lahir anak-anak yang menyelamatkan kedua orang tuanya itu.

Rumah yang aku perbaiki adalah rumah anak yatim yang orang tuanya menyimpan kekayaan di rumah itu untuk bekal masa depannya. Dengan hidayah Allah swt, Nabi Musa as dapat memahami kejadian dan menambah pengetahuinya.

Kepatuhan adalah modal keberhasilan, mengikuti guru ikutilah apa-apa yang menjadi ketetapannya, Syekh Abdul Hasan ra adalah contoh ulama teladan, kepribadiannya harus kita jadikan ibrah, semoga kita dapat mengikutinya. Wallau’alam.Athoez/Rbth

Sumber = Tabloid Robithoh



No comments:

Post a Comment