Suryalaya Search

Friday, November 14, 2008

Guru Mursyid Silsilah TQN Suryalaya ke 8

Untuk melihat artikel-artikel tentang
Guru Muryid TQN Suryalaya lainnya
bisa dlihat pada link di bawah ini :

http://hudaya-organization.blogspot.com
/search/label/suryalaya-guru-muryid

----------------------------------------

SAYYIDINA MUSA AL-KADHIM RA

SANG PENCINTA PERSAHABATAN


Rahmat Allah swt yang ditebarkan ke seantero dunia sangatlah luas, keluasan rahmat Allah swt tidak hanya memenuhi kebutuhan orang yang beriman saja, tetapi orang yang ingkar atas aturannyapun turut menikmatinya.Tinggal bagaimana kita mencari cara untuk dapat menggapai dan mensyukurinya.

Syekh Junaidi al-Bagdadi ra,

beliau menuturkan Rahmat Allah swt akan turun kepada orang dalam tiga hal.

1. rahmat Allah swt akan turun ketika orang menggunakan telinganya untuk mendengar tetapi tidak mendengarkan sesuatu kecuali hal yang benar menurut ajaran agama dan ketika berbicara dengan hati yang tidak terputus mengingat Allah swt (dzikrullah).

2. ketika sedang makan, tetapi tidak makan kecuali sesuai kebutuhan.

3. Ketiga, ketika mendapatkan ilmu tentang sifat-sifat para wali (dalam hal kondisi, hal ikhwal dan kedudukan mereka).

Dalam ibroh kali ini, Sayyidana Musa Al-Kadim ra yang kita telusuri kifrah perjuangan dan keluasan ilmunya, dengan harapan kita dapat menjadikan suri tauladan dan rahmat Allah swt dapat kita raih didunia dan akhirat.

Nama lengkapnya adalah Musa ra bin Ja’far al-Shodik ra bin Muhammad Baqir ra bin Ali Jaenal Abidin ra bin Husyen ra bin Sayyidina Ali bin Abitholib buah pernikahannya denga Siti Fatimah putrid tercinta Rasulullah saw. Dalam silsilah Thoriqot Qodiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya beliau merupakan silsilah kedelapan.

Dalam keseharian Beliau lebih dikenal dengan Nama Sayyidina Musa al-Kadim, nama ujung beliau al-Kadim adalah merupakan gelar yang diberikan kepadanya karena beliau sangat mashur dapat menahan diri dari marah, dengan kata lain al-kadim berarti seseorang yang selalu dapat mengendalikan dirinya dari rasa marah.

Kemampuannya dalam mengendalikan diri, membuat beliau sangat dicintai setiap orang sekalipun yang bersebrangan dengannya. Beliau lahir pada tahun 128 Hijriyah sebagaian ahli sejarah menyatakan beliau lahir di Irak dan sebagiannya lagi menyatakan beliau lahir di Madinah kemudian pindah ke Irak. Kearifan ilmunya menjadikan beliau Guru Mursyid yang sangat berpengaruh dan menjadi panutan umat.

Diantara pesan beliau yang teramat mashur,adalah.

“Jika Kamu Bersahabat dengan seseorang, orang itu sangat patuh dan mengikutimu, tiba-tiba berpaling dan sangat membencimu. Maka koreksilah hatimu (sudah benarkah dzikirnya) dan kendalikanlah napsumu, karena semuanya bersumber dari itu, jangan menyalahkan orang lain”.

Seandainya setiap orang telah mampu mengoreksi kelemahan diri sendiri, tentu akan mudah untuk membina persaudaraan dan persahabatan. Kenyataan dalam kehidupan orang kebanyakan, sangat mudah melihat dan mengoreksi kelemahan orang lain, yang di koreksipun tidak sadar diri ujungnya sudah dapat dipastikan perpecahan. Dalam hal membina persahaban Sayyidina Musa al-Kadim ra patut dijadikan teladan.

Janganlah kamu sekalian berpaling dari thorikot sehingga kamu sekalian tetap dan istyiqomah menjalankannya, demikian salah satu pesan beliau yang lainnya.

Kesalihan perangai dan eramahan sikapnya terpancar dari sosok yang tidak pernah menyia-nyiakan ibadah sekalipun sunat hukumnya, istiqomah bermujahadah dan tidak terputus sholat malamnya. Pada tahun 163 Hijriyah beliau berpulang kerahmatullah dalam usia 35 tahun dengan meninggalkan ibrah yang mesti diteladani murid-muridnya.

Memuliakan guru dengan mengikuti amaliahnya, merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap murid, sebagaimana Rasulullah saw bersabda yang artinya. “tidaklah anak muda (Murid) memuliakan Guru karena umurnya, kecuali Allah swt akan mentaqdirkannya di usia tuanya di muliakan orang lain ( sebagai balasan amalnya)”. Hr. Al-Tirmidzi ra.

Jika kita ingin diakui sebagai murid yang baik maka laksanakanlah amaliahnya karena, awal setiap perpisahan adalah karena adanya pelanggaran, yakni orang yang melanggar gurunya sehingga tidak tetaplagi dalam thoriqot gurunya dan hububgan keduanya menjadi terputus walaupun keduanya berada dalam satu tanah. Demikian di katakana Syekh Abu Ali Ad-Daqoq ra. Semoga bermanpaat. Rbth


Sumber = Tabloid Robithoh
Sumber lainnya = http://atus165.blog.com

--------------------------------------------------------------
Untuk melihat artikel-artikel tentang dzikir TQN Pondok
Pesantren Suryalaya
bisa dilihat pada link di bawah ini :

http://hudaya-organization.blogspot.com/2009/05/

index-artikel-artikel-tentang-dzikir.html



No comments:

Post a Comment